Halo, Goede Morgen (Selamat Pagi dalam bahasa
Belanda). Maaf baru update lagi
setelah sekian lama hiatus. Oke, seperti janji saya sebelumnya. Saya akan
melanjutkan tulisan saya tentang keikutsertaan saya dalam seleksi PPAN JATENG
2015. Walaupun sekarang sudah 2016, tapi semoga tulisan saya ini bisa membantu
kalian-kalian yang akan mengikuti PPAN 2016 ya.
Cerita saya
lanjutkan di hari penyelenggaraan seleksi PPAN 2015 saat itu. Biasanya
pelaksanaan seleksi PPAN sendiri dilaksanakan di gedung Dinas Pemuda dan
Olahraga (Tergantung kebijakan nama di masing-masing daerah) di provinsi
masing-masing.
Saya ingat pada saat itu saya masuk dengan santai dan menggunakan baju batik hadiah dari ibu saya yang sangat kedodoran di sana-sini. Tapi tidak apa-apa, siapa tahu itu tanda keberuntungan saya. Naiklah saya ke lantai dua atau tiga kalau tidak salah, tempat diselenggarakannya seleksi. Saya ingat sekali saya sempat malah dibuat terpana oleh lift sempit di DINPORA Jawa Tengah. Maaf emang sedikit katrok sih, tapi anak-anak yang pernah ke DINPORA Jateng pasti tahu perasaan pertama kali melihat lift yang super sempit itu (Blink Eyes).
Saya ingat pada saat itu saya masuk dengan santai dan menggunakan baju batik hadiah dari ibu saya yang sangat kedodoran di sana-sini. Tapi tidak apa-apa, siapa tahu itu tanda keberuntungan saya. Naiklah saya ke lantai dua atau tiga kalau tidak salah, tempat diselenggarakannya seleksi. Saya ingat sekali saya sempat malah dibuat terpana oleh lift sempit di DINPORA Jawa Tengah. Maaf emang sedikit katrok sih, tapi anak-anak yang pernah ke DINPORA Jateng pasti tahu perasaan pertama kali melihat lift yang super sempit itu (Blink Eyes).
Kembali ke topik
setelah terpana pada lift yang aneh
itu. Sampailah saya di lantai tempat di selenggarakannya seleksi. Waktu saya
keluar dari lift, saya terpana sekali
lagi (maaf kalau bahasanya jadi drama hehe). Karena ternyata banyak sekali
peserta yang ikut seleksi ini, berbeda dengan pemandangan sepi yang saya lihat
di lantai satu tadi. Segeralah saya
bertanya pada panitia, saya harus bagaimana sebelum test. Ternyata saya harus
menyerahkan berkas-berkas yang telah ditulis di pengumuman saat menjelang akan
test. Saya serahkanlah berkas-berkas seperti, SKCK, Pas Foto, CV dan kebutuhan
lainnya di meja yang bertuliskan IKYEP. Saya ingat sekali ada dua ibu-ibu yang
kelihatannya galak menunggu dan menerima berkas di meja IKYEP. Tapi dengan
wajah nan polos saya (Blink Eyes), saya menghampiri mereka dan ternyata mereka
sangat ramah cuma tampangnya saja yang serem. Setelah menyerahkan berkas,
akhirnya saya dapat kertas yang sudah dipotong bulat berwarna oranye dan
bernomor “415". Lalu saya duduk di meja baris paling belakang saat itu
sambil clingak-clinguk melihat ke sekitar yang penuh dengan orang-orang kece,
ada yang sibuk ngobrol tapi kebanyakan sibuk belajar. Beda sekali penampilan
mereka yang necis dari kepala hingga kaki, jika dibandingkan dengan saya yang
pakai baju dan celana yang serba kedodoran (Tapi saya tetap percaya dengan diri
saya saat itu). Saya sempat berkenalan dengan beberapa orang disana, ada yang
berprofesi sebagai wartawan Antara, Guru, Dosen, Mahasiswa, Duta Wisata dari
berbagai daerah di Jawa Tengah dan macam-macam pokoknya. Salut pokoknya,
sedikit saran bagi siapapun yang mau ikut seleksi PPAN kalian harus siap mental
menghadapi latar belakang lawan kalian. Karena rata-rata mereka adalah
orang-orang luar biasa dengan background yang luar biasa juga. Tapi jangan
jadikan itu sebagai beban ya, karena kalian sejatinya adalah sama-sama luar
biasa. Saya malah senang bisa bersaing dengan orang-orang kece saat itu, biar bisa
ketularan kece.
Saatnya seleksi!!!!
Akhirnya saat
seleksi tiba juga, kalau tidak salah seleksi dimulai pukul 9 pagi saat itu.
Perlu diketahui bahwa seleksi PPAN biasanya terbagi atas beberapa sesi. Kalau
pada tahun 2015, sesi tersebut mulai dari sesi Test Tertulis Pengetahuan Umum
dengan Bahasa Inggris, LGD, Interview 5 tahap, Kemudian Bakat. Nanti akan saya
ceritakan semua.
Sekarang kita
mulai dengan test seleksi pertama. Seleksi pertama biasanya adalah test
tertulis. Saya ingat tahun lalu testnya full menggunakan bahasa Inggris tentang
pengetahuan umum. Alhamdulillah pada test ini saya merasakan tidak ada beban
sama sekali saat mengerjakannya. Mungkin juga karena awalnya berangkat dari
coba-coba sehingga saya tidak berekspektasi banyak untuk bisa lolos. Jadi saya
mengerjakan test sama sekali tanpa beban dan kebetulan menurut saya soalnya
cukup mudah. Tapi By The Way, saya juga mau ngucapin matur nuwun buat mbak
Ghoniyati Rohmah (Dubas Jateng 2014) karena beliau sempat bagi kisi-kisi ke
saya tentang test. Dan banyak kisi-kisi beliau yang keluar. Wah beliau memang
mentor yang luar biasa. Jujur saya tidak berekspektasi untuk melaju ke babak
selanjutnya, karena saya memang tidak persiapan banyak saat itu. Setelah
istirahat, diumumkanlah hasilnya dan nomor saya masuk deretan 10 besar finalis
IKYEP yang akan memasuki tahap LGD (Leadership Group Discussion).
Nah, selama
persiapan pergantian sesi ini. Saya ketemu sama mas Atiya Mahmud Hana (Juara 2
Dubas Jawa Tengah 2014). Beliau sebelumnya juga pernah mengikuti seleksi PPAN
dan berbagai seleksi lomba. Jadi beliau sudah cukup berpengalaman. Akhirnya
beliau berbagi tips agar saya bisa lolos ke tahap selanjutnya dalam sesi LGD.
Dan saran beliau benar-benar saya gunakan. Terima kasih Mentorku yang lain,
what an amazing guy.
Akhirnya LGD pun
dimulai. Saya bertemu dengan 9 finalis yang lain dan pastinya mereka kece
badai. Mereka tampak sangat percaya diri dengan dirinya masing-masing dan
sangat brilian pemikiran-pemikirannya. Pada saat itu grup kami dinilai oleh dua
orang juri yang merupakan alumni PPAN tahun-tahun sebelumnya. Saya hanya tahu
sosok salah satu juri adalah mas Muzakhi Bashori yang dari jaman kuliah saya
sering dengar namanya sebagai salah satu mahasiswa kece di Kampus tercinta Bumi
Sekaran (Peace kalau salah spellingnya ya Mas Muzakhi). Dulu namanya legendaris
dan menjadi panutan kami para anak-anak yang berkutat dengan karya ilmiah. Kami
diberi waktu sekitar 1 jam saat itu untuk berdiskusi dan menawarkan solusi atas
permasalahn yang kami diskusikan. Saya ingat ada dua topik yang ditawarkan juri
(Pengangguran dan Pariwisata). Dan grup kami memilih untuk mendiskusikan
masalah Pariwisata, karena banyak yang punya background duta pariwisata
tampaknya di grup kami. Saya ingat sekali saran dari mas Atiya dan
mengaplikasikannya di LGD tersebut. Saya juga kagum dengan teman-teman yang
luar biasa di grup kami tersebut. Saya sadar pemikiran-pemikiran mereka
benar-benar luar biasa dan banyak sekali saya mendapat ilmu baru di sana. Tapi
disinilah terlihat beberapa teman ada yang sangat vokal dan ada yang sangat
diam karena tidak mendapat kesempatan berbicara. Bisa dibilang saya berada di kelompok
yang tidak vokal tapi tidak diam juga alias sedang sedang saja (Berbicara Di
Saat yang dibutuhkan saja), justru saya banyak belajar mengamati dan memahami
pendapat setiap orang di tempat tersebut. Saya juga merasa kasihan terhadap
teman-teman yang tidak punya kesempatan untuk berbicara karena kalah dengan
mereka yang sangat menunjukan bahwa mereka vocal di grup. Dan pada saat itu saya
juga sudah puas jikapun cuma sampai babak 10 besar karena teman-teman saya satu
grup memang benar-benar luar biasa dalam pandangan saya. Yang jelas saya sudah
berusaha melakukan yang terbaik saat itu dan tinggal sisanya adalah urusan
Tuhan.
Akhirnya pengumuman
untuk masuk tahap 5 besar. Saya ingat sekali saat itu panitia masuk ke podium
dan membacakan satu persatu nomor yang masuk ke babak selanjutnya. Sampai di
satu momen panitia memanggil nomer saya “415” untuk maju kedepan. Awalnya saya
tidak ngeh, tapi setelah dua kali panitia memanggil saya baru sadar kalau nomor
saya disebut. Saya berjalan kedepan dengan perasaan kaget sebenarnya kok saya
yang masuk. Setelah pengumuman, 5 besar program IKYEP kita berkumpul dan
berdikusi, akhirnya Eri (Putra Solo 2013 dan Putra Batik Favorit 2015)
membagikan tips kenapa kita berlima yang masuk ke LGD. Kata Eri, bukan terkait
kita vokal atau tidak sebenarnya saat LGD. Tapi justru sikap menghormati kita
terhadap pendapat, menghargai waktu dan perasaan orang lain serta memecahkan
masalahlah yang menjadi point penting dalam setiap LGD. Dia juga mengutarakan
bahwa setiap orang pasti punya nafsu untuk Show Off di LGD. Tapi bagaimana kita
mengontrol diri kita itu juga jadi bahan pertimbangan. Selain itu katanya, ada
cara show off yang elegan tanpa harus memonopoli perdiskusian. Wah, sekali lagi
saya dapat pelajaran lagi. Thanks ya Eri, you deserve to get the big things.
Setelah itu akhirnya
saya ikut sesi interview yang terdiri dari 5 sesi, saran saya untuk sesi ini
tetap santai dan kontrol diri anda karena dengan mengontrol diri you can
achieve more. Dan setelah interview biasanya dilanjut pertunjukan bakat. Pada
saat itu saya tampilkan monolog atas cerpen yang pernah saya buat. Karena jujur
saya tidak berekspektasi akan melaju sampai babak final sehingga saya tidak
banyak mempersiapkan sesuatu, mau tarian atau apapun itu.
Akhirnya setelah
berbagai rangkaian seleksi yang cukup panjang tersebut, kami diminta menunggu
dalam beberapa hari untuk pengumuman siapakah wakil dari Jawa tengah. Dan tara,
Eri lah yang menjadi wakil Jawa Tengah untuk program IKYEP. Selamat sekali lagi
ya Eri, you deserve to get Big Things. Sementara saya ada di urutan ketiga,
tapi saya bersyukur banyak pelajaran baru dan ternyata saya tahu bahwa ketika
kita mendorong diri kita untuk melakukan hal-hal besar, kita pasti bisa menjadi
seorang miracle makers. Jadi saya
menyimpulkan bahwa kesuksesan itu bukan hanya berkaitan dengan talenta. Tapi
sukses adalah interseksi poin antara kesempatan dan persiapan. Sehingga, yuk
mulai saat ini kita terus berproses dan mempersiapkan diri kita untuk sesuatu
yang lebih besar. Terima kasih untuk para kontributor yang berperan sehingga
saya bisa belajar hal-hal baru.
Sukses buat mba
Oni untuk segala aktivitasnya, sukses juga buat mas Atiya untuk karirnya,
sukses untuk Mas Muzakhi untuk studinya di Belanda, sukses selalu juga buat Eri
dengan segala aktifitas dan impiannya. See you on TOP ya.
Terima kasih
juga buat Bapak dan Ibu atas supportnya, semoga bapak Ibu selalu diberkahi
kesehatan dan dapat menyaksikan anak-anaknya membanggakan kalian. Serta Terima
kasih ya Allah, meski belum berkesempatan menjadi wakil Jateng tapi saya
bahagia bertemu dengan orang-orang hebat selama proses ini. Bismillah,
selanjutnya akan lebih baik.
Bagi yang ingin
sharing-sharing pengalaman luar biasanya bias kontak saja saya langsung.
Begitulah kiranya pengalaman saya selama mengikuti seleksi PPAN IKYEP Jawa
Tengah 2015. Mohon maaf kalau banyak penulisan yang salah dan tulisan yang
masih jelek butuh perbaikan di sana-sini. Serta maaf kalau tidak ada foto
karena saat itu HP saya masih HP jadul (hehe). Selamat pagi dan selamat
berakhir pekan Kawan-kawanku yang emejing ^^.
luar biasa menginspirasi bung nara...
BalasHapuslanjuutt..!
luar biasa menginspirasi bung nara...
BalasHapuslanjuutt..!