Rabu, 27 Mei 2015

IKUTAN SELEKSI PPAN JATENG 2015 (Part 1)


Halo, sudah lama nggak update tulisan nih (senyum tanpa dosa). Nggak bakal ngeles deh, emang niatnya sudah ada, tapi baru sebatas niat yang tidak diimbangi oleh perbuatan. Tapi kan niat baik saja sudah dapat pahala katanya (blink eyes). Kembali ke topik sesuai judul tulisan di atas itu “Ikutan Seleksi PPAN JATENG 2015”. Jadi saya bakal sedikit menceritakan tentang pengalamanku ikut seleksi PPAN. Pasti sebagian besar sudah tahu dong apa itu PPAN?. Oke, bagi yang belum tahu saya akan kasih tahu sedikit informasi tentang PPAN. 

PPAN (Pertukaran Pemuda Antar Negara) merupakan program yang sedang happening. PPAN adalah program tahunan dari Kementrian Pemuda dan Olahraga untuk mencari pemuda-pemuda yang akan ditukarkan. Bukan ditukarkan seperti halnya sinetron yang ala-ala menukarkan itu lho ya. Tapi ini mewakili Indonesia sebagai duta pemuda yang akan dikirim ke negara-negara mitra. Kebetulan Jawa Tengah kebagian kuota 5 program nih yaitu: IKYEP (Indonesia-Korea Youth Exchange Program), IMYEP (Indonesia-Malaysia Youth Exchange Program), SSEAYP (Ship of South East Asean Youth Program), ASVI (ASEAN Student Visit India), CHIYEP (China-Indonesia Youth Exchange Program). Program ini juga pernah diikuti oleh Putri Indonesia 2015 Anindya Kusuma Putri pada tahun 2014 yang lalu.

Kembali ke topik dimana saya mencoba peruntungan mengikuti program PPAN ini. Sedikit cerita, sebenarnya tahun 2014 saya pun pernah mendaftar program ICYEP (Indonesia-Canada Youth Exchange Program). Tetapi pada saat itu bertepatan dengan saya mengikuti test seleksi masuk universitas sehingga saya tidak melanjutkan.

Sebenarnya pada seleksi tahun 2015 ini pun, saya awalnya agak ragu untuk kembali mengikuti program ini. Bisa dibilang persiapanku pun sangat kurang maksimal, hanya dua hari menjelang seleksi semifinal dan final. Jadi seorang teman yang juga seorang Duta Bahasa Jateng 2014 memberiku motivasi untuk mencoba kembali peruntungan ini (terima kasih mbak Ghoniyati Rohmah hehe). Awalnya, saya pun masih ragu akan ikut atau tidak. Namun, untuk berjaga-jaga akhirnya saya secara tidak sadar melengkapi persyaratan satu persatu mulai dari surat dokter, toefl, foto dan SKCK yang sebenarnya sudah ada (tapi buat kerja bukan untuk PPAN).

Saya ingat sekali saat itu sekitar jam empat atau dua jam menjelang penutupan pengiriman persyaratan administrasi. Akhirnya entah kenapa saya memiliki keinginan untuk mengisi form aplikasi pendaftaran yang berisi biodata, pengalaman dan esai yang harus ditulis. Singkat kata, pada saat itu benar-benar semuanya serba mendadak. Saya sebenarnya mendaftar karena pada awalnya sayang akan berkas-berkas yang sudah saya kumpulkan. Akhirnya membulatkan tekad sambil mengisi aplikasi, saya memotret semua berkas dengan HP (harusnya di scan tapi karena waktu sudah mepet terpaksa saya foto). Lalu sekitar jam 17.15 semua selesai saya masukan ke dalam satu folder. Awalnya saya kirim di rumah (batinku saat itu kalau terkirim berarti memang rejeki, tidak terkirim yasudah). Ternyata koneksi dengan modem di rumah sangat lemot, sampai sekitar pukul 17.30 file tidak kunjung juga ter-upload. Saat itu entah kenapa saya ingin sekali ke warnet karena merasa sayang kalau berkas ini semua tidak terkirim. Dan kemudian  mengambil motor lalu berangkatlah ke warnet terdekat. Sampai di warnet herannya suasana yang biasanya rame begitu sepi sekali, mungkin karena bertepatan dengan malam minggu. Saya dengan santai bisa memilih tempat di manapun.

Satu hal yang terpikir saat itu adalah jika terkirim alhamdulillah jika tidak yasudah. Saya segera buka akun gmail, tapi teringat warnet ini biasanya koneksinya lemot maka saya antisipasi pakai dropbox untuk koneksi lemot. Herannya, saat akun gmail saya terbuka ada keinginan untuk mencoba melampirkan langsung di gmail siapa tahu bisa, toh juga kalau tidak bisa masih ada dropbox. Anehnya  feeling saya benar saat itu. Tanpa membutuhkan waktu satu menit, file saya yang berkisar sekitar 7 mb langsung terupload di gmail saya dan di warnet yang sering sekali lemot. Akhirnya saya kirimkanlah berkas tersebut dengan gampangnya melalui warnet itu menjelang beberapa menit sebelum pendaftaran di tutup.  Satu hal yang pasti saya sadar bahwa itu adalah cara Tuhan untuk membuat saya mengambil kesempatan ini lagi untuk melakukan yang terbaik pikir saya setelah mengirim. Tepat hari selanjutnya akhirnya diumumkan dan nama saya masuk sebagai salah satu peserta yang lolos seleksi administrasi di program IKYEP (Indonesia-Korea Youth Exchange Program).  

Bersambung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar