Senin, 18 April 2016

KETIKA KAMU DAN PENGORBANAN


Terima kasih untuk telah singgah di blog saya ini. Mohon maaf karena saya bukan seorang blogger yang cukup aktif menulis di social media sehingga saya jarang update blog ini. Tapi saya akan berusaha untuk lebih sering mengupdate tulisan-tulisan atau konten-konten di blog ini. Baiklah, hari ini saya akan bercerita sedikit tentang yang disebut pengorbanan. 


Beberapa saat yang lalu, saya memutuskan untuk keluar dari pekerjaan saya. Pasti banyak yang bertanya kenapa saya memilih untuk meninggalkan pekerjaan saya. Sebenarnya saya keluar bukan karena saya tidak menyukai pekerjaan saya. Namun, karena saya berada di situasi yang menuntut saya untuk mengorbankan salah satu hal dalam kehidupan saya. Posisi saya saat itu menuntut saya untuk memilih keluarga, impian yang sempat tertunda dan juga pekerjaan saya. 

Mungkin saya sempat serakah awalnya, jika dibilang ingin bisa untuk menghandle ketiganya. Namun, pada akhirnya memang harus ada yang dikorbankan dalam proses saya ini. 

Baik jadi begini ceritanya, kebetulan tidak lama ini keluarga menyelenggarakan syukuran pernikahan kakak saya, saya tahu betapa kerasnya semua orang rumah untuk menyelenggarakan pernikahan dalam waktu hanya 1,5 bulan saja. Jika diingat-ingat dalam waktu 1,5 bulan kebelakang, Saya lebih banyak menghabiskan waktu saya dari pagi hingga malam di kantor. 

Kemudian saya juga mengikuti seleksi PPAN provinsi Jawa Tengah tahun 2016 ini. Dan yang cukup membuat saya kewalahan ternyata hari seleksinya berurutan dengan pernikahan kakak saya. Awalnya saya sudah membuat planning untuk bisa menghandle ketiganya. Namun ternyata saat minggu yang sudah saya rencanakan datang. Ternyata banyak hal yang berada di luar jangkauan kehendak saya. Pada akhirnya hanyalah mengorbankan salah satu adalah cara yang harus saya lakukan.

Setelah saya timbang-timbang. Akhirnya saya memutuskan untuk melepaskan pekerjaan saya. Dengan proses yang saya bilang matang setelah saya pikirkan, saya menyadari bahwa pekerjaan saya telah cukup banyak menyita waktu saya dari keluarga apalagi mimpi saya. Saya sadar, saya masih membutuhkan pemasukan untuk isi kantong saya. Saya memang sempat menyadari bahwa saya memang membutuhkan uang, tapi bukan berarti uang menjadi target utama saya. Di pekerjaan saya memang memiliki peraturan yang sangat ketat yang mengisyaratkan bahwa dengan 3 kali berturut-turut tidak masuk maka saya dianggap keluar. Kenapa saya dalam posisi sulit karena pada minggu tersebut juga saya harus menghadapi test final untuk pekerjaan saya dan saya tidak mungkin untuk meminta cuti.

Beberapa teman sempat menyatakan saya ini seperti gambling, saya melepaskan pekerjaan saya padahal saya belum pasti terpilih PPAN 2016. Dan saya sangat menyadari hal tersebut. Saya adalah tipikal orang yang akan mempertimbangkan dengan matang apa yang saya ambil, dan saya akan berusaha untuk tidak menyesali setiap keputusan yang sudah saya ambil. Lagipula ini bukan hanya masalah PPAN tapi ini merupakan juga perwujudan bakti saya pada orang tua. Ibu sudah berkali-kali meminta saya untuk libur dan membantunya mengurus pernikahan kakak saya. Dan mengambil libur adalah hal yang cukup sulit dikantor saya. Dengan saya keluar dari pekerjaan saya, membuat saya bisa ikut membantu memikirkan pernikahan kakak saya. Dan benar saja saat saya mulai mengambil peran dominan yang tadinya dilakukan oleh ibu saya dalam penyelenggaraan pernikahan. Saya sadar banyak sekali detail yang belum terpikirkan oleh orang tua saya. Karena saya sadar bahwa orang tua saya dan kakak saya sudah tidak bisa untuk melakukan apa-apa lagi  sejak H-2.

Bisa dibilang memang berat ketika harus melakukan sebuah pilihan. Saat mengambil keputusan inipun saya sempat merasakan rasa sayang karena berbulan-bulan saya telah berjuang maksimal untuk pekerjaan ini. Namun kembali lagi bahwa ini bukan melulu soal uang. Seringkali dalam kehidupan kita membutuhkan dan menuntut kita membuat pilihan-pilihan sulit dalam kehidupan kita. Menjadi serakah bukanlah solusi atas semuanya. Satu-satunya cara adalah dengan menjadi lebih bijak dalam mengambil keputusan meski suatu ketika harus mengorbankan suatu hal. Saya memang masih tidak tahu tentang PPAN 2016, saya sudah melakukan yang terbaik itu saja, sisanya saya percaya Allah akan memberikan yang terbaik juga untuk saya. Tapi setidaknya, saya bisa berpartisipasi dan membuat acara hajat yang dibuat oleh keluarga saya menjadi sukses.

Saya juga baru menyadari bahwa ternyata banyak proyek yang sempat terbengkalai karena kesibukan saya bekerja. InshAllah sekarang harus semangat kembali untuk membangun kembali project-project social untuk masyarakat saya ini. Ditunggu saja, project-projectnya ya, soon to be released.Selain itu, saya selalu ingat pesan bapak dari saya kecil. Jadilah pribadi yang berguna bukan hanya untuk dirimu sendiri tapi juga orang lain. “Urip kuwi orang mung kudu murup, nanging juga urip kuwi kudu biso murupi tumpraping liyan”. Semoga tulisan ini bisa sedikit banyak membantu generasi muda untuk kembali menyadari apa tujuanmu sebenarnya terlahir di dunia. Selamat malam dan tetap berjuang dalam kebaikan serta berpartisipasi membangun negeri kawan-kawan semua ^_^

2 komentar:

  1. Mantap mas Nara.
    Tidak ada hasil yang mengkhianati perjuangan, terus semangat dan selalu bersyukur bagaimanapun hasilnya PPAN nanti !

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih Asa. Yup benar, no matter what happen tetap berlomba-lomba dalam kebaikan..Anw, sdah aku salamkan sepupuku ria ya. ^^

      Hapus