Terima kasih untuk telah singgah
di blog saya ini. Mohon maaf karena saya bukan seorang blogger yang cukup aktif
menulis di social media sehingga saya jarang update blog ini. Tapi saya akan
berusaha untuk lebih sering mengupdate tulisan-tulisan atau konten-konten di blog
ini. Baiklah, hari ini saya akan bercerita sedikit tentang yang disebut
pengorbanan.
Beberapa saat yang lalu, saya
memutuskan untuk keluar dari pekerjaan saya. Pasti banyak yang bertanya kenapa
saya memilih untuk meninggalkan pekerjaan saya. Sebenarnya saya keluar bukan
karena saya tidak menyukai pekerjaan saya. Namun, karena saya berada di situasi
yang menuntut saya untuk mengorbankan salah satu hal dalam kehidupan saya. Posisi
saya saat itu menuntut saya untuk memilih keluarga, impian yang sempat tertunda
dan juga pekerjaan saya.
Mungkin saya sempat serakah
awalnya, jika dibilang ingin bisa untuk menghandle ketiganya. Namun, pada
akhirnya memang harus ada yang dikorbankan dalam proses saya ini.
Baik jadi begini ceritanya,
kebetulan tidak lama ini keluarga menyelenggarakan syukuran pernikahan kakak
saya, saya tahu betapa kerasnya semua orang rumah untuk menyelenggarakan
pernikahan dalam waktu hanya 1,5 bulan saja. Jika diingat-ingat dalam waktu 1,5
bulan kebelakang, Saya lebih banyak menghabiskan waktu saya dari pagi hingga
malam di kantor.
Kemudian saya juga mengikuti
seleksi PPAN provinsi Jawa Tengah tahun 2016 ini. Dan yang cukup membuat saya
kewalahan ternyata hari seleksinya berurutan dengan pernikahan kakak saya.
Awalnya saya sudah membuat planning untuk bisa menghandle ketiganya. Namun
ternyata saat minggu yang sudah saya rencanakan datang. Ternyata banyak hal
yang berada di luar jangkauan kehendak saya. Pada akhirnya hanyalah
mengorbankan salah satu adalah cara yang harus saya lakukan.
Setelah saya timbang-timbang.
Akhirnya saya memutuskan untuk melepaskan pekerjaan saya. Dengan proses yang
saya bilang matang setelah saya pikirkan, saya menyadari bahwa pekerjaan saya
telah cukup banyak menyita waktu saya dari keluarga apalagi mimpi saya. Saya
sadar, saya masih membutuhkan pemasukan untuk isi kantong saya. Saya memang
sempat menyadari bahwa saya memang membutuhkan uang, tapi bukan berarti uang menjadi
target utama saya. Di pekerjaan saya memang memiliki peraturan yang sangat
ketat yang mengisyaratkan bahwa dengan 3 kali berturut-turut tidak masuk maka
saya dianggap keluar. Kenapa saya dalam posisi sulit karena pada minggu tersebut
juga saya harus menghadapi test final untuk pekerjaan saya dan saya tidak
mungkin untuk meminta cuti.
Beberapa teman sempat menyatakan
saya ini seperti gambling, saya melepaskan pekerjaan saya padahal saya belum
pasti terpilih PPAN 2016. Dan saya sangat menyadari hal tersebut. Saya adalah
tipikal orang yang akan mempertimbangkan dengan matang apa yang saya ambil, dan
saya akan berusaha untuk tidak menyesali setiap keputusan yang sudah saya
ambil. Lagipula ini bukan hanya masalah PPAN tapi ini merupakan juga perwujudan
bakti saya pada orang tua. Ibu sudah berkali-kali meminta saya untuk libur dan
membantunya mengurus pernikahan kakak saya. Dan mengambil libur adalah hal yang
cukup sulit dikantor saya. Dengan saya keluar dari pekerjaan saya, membuat saya
bisa ikut membantu memikirkan pernikahan kakak saya. Dan benar saja saat saya
mulai mengambil peran dominan yang tadinya dilakukan oleh ibu saya dalam
penyelenggaraan pernikahan. Saya sadar banyak sekali detail yang belum
terpikirkan oleh orang tua saya. Karena saya sadar bahwa orang tua saya dan
kakak saya sudah tidak bisa untuk melakukan apa-apa lagi sejak H-2.
Bisa dibilang memang berat ketika
harus melakukan sebuah pilihan. Saat mengambil keputusan inipun saya sempat
merasakan rasa sayang karena berbulan-bulan saya telah berjuang maksimal untuk
pekerjaan ini. Namun kembali lagi bahwa ini bukan melulu soal uang. Seringkali
dalam kehidupan kita membutuhkan dan menuntut kita membuat pilihan-pilihan
sulit dalam kehidupan kita. Menjadi serakah bukanlah solusi atas semuanya.
Satu-satunya cara adalah dengan menjadi lebih bijak dalam mengambil keputusan
meski suatu ketika harus mengorbankan suatu hal. Saya memang masih tidak tahu
tentang PPAN 2016, saya sudah melakukan yang terbaik itu saja, sisanya saya
percaya Allah akan memberikan yang terbaik juga untuk saya. Tapi setidaknya,
saya bisa berpartisipasi dan membuat acara hajat yang dibuat oleh keluarga saya
menjadi sukses.
Saya juga baru menyadari bahwa
ternyata banyak proyek yang sempat terbengkalai karena kesibukan saya bekerja.
InshAllah sekarang harus semangat kembali untuk membangun kembali project-project
social untuk masyarakat saya ini. Ditunggu saja, project-projectnya ya, soon to
be released.Selain itu, saya selalu ingat pesan bapak dari saya kecil. Jadilah
pribadi yang berguna bukan hanya untuk dirimu sendiri tapi juga orang lain. “Urip
kuwi orang mung kudu murup, nanging juga urip kuwi kudu biso murupi tumpraping liyan”. Semoga tulisan ini bisa sedikit banyak membantu generasi
muda untuk kembali menyadari apa tujuanmu sebenarnya terlahir di dunia. Selamat
malam dan tetap berjuang dalam kebaikan serta berpartisipasi membangun negeri
kawan-kawan semua ^_^

Mantap mas Nara.
BalasHapusTidak ada hasil yang mengkhianati perjuangan, terus semangat dan selalu bersyukur bagaimanapun hasilnya PPAN nanti !
Terima kasih Asa. Yup benar, no matter what happen tetap berlomba-lomba dalam kebaikan..Anw, sdah aku salamkan sepupuku ria ya. ^^
Hapus